Pada
hari Kamis, tanggal 23 April 2026, telah dilaksanakan seminar dengan tema
“Bedah Karya Sastra: Rahasia Gaya Bahasa dalam Karya Sastra” yang
diselenggarakan oleh HMP BSA UIN Sunan Ampel Surabaya. Seminar ini terbuka
untuk umum dan tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa BSA saja. Kegiatan
seminar menghadirkan Ustadz Lora Irfan Maulana Ramadhani sebagai narasumber
utama. Seminar berlangsung dengan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari
para peserta yang hadir dari berbagai kalangan.
Dalam
sambutannya, ketua pelaksana menyampaikan harapan agar seminar ini dapat
menjadi wadah bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk lebih mengenal dunia
sastra, khususnya sastra Arab, serta mampu meningkatkan minat peserta dalam
memahami keindahan gaya bahasa dan makna yang terkandung dalam karya sastra.
Selain itu, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi sarana pengembangan wawasan,
daya kritis, dan apresiasi terhadap karya sastra di kalangan generasi muda.
Sebelum
membedah karya sastra ciptaannya sendiri, narasumber terlebih dahulu
menjelaskan mengenai sejarah bahasa Arab, perkembangan dan kemunduran bahasa
Arab, serta tokoh-tokoh yang dikenal fasih dalam berbahasa Arab. Selain itu,
narasumber juga memaparkan langkah-langkah dalam menyusun sebuah karya sastra
Arab, mulai dari pemilihan diksi, penyusunan gaya bahasa, hingga penyampaian
makna yang terkandung di dalam karya sastra tersebut.Setelah penyampaian materi
tersebut, narasumber kemudian membedah karya sastra ciptaannya sendiri dan
menjelaskan rahasia gaya bahasa yang digunakan dalam karya tersebut sehingga
peserta dapat memahami bagaimana sebuah karya sastra dibangun dan dimaknai.
Selain
penyampaian materi, seminar juga diisi dengan sesi tanya jawab interaktif
antara peserta dan narasumber. Salah satu mahasiswa mengajukan pertanyaan
mengenai fungsi karya sastra sebagai media penyampaian informasi, sementara
karya sastra sendiri memiliki gaya bahasa yang sulit dipahami dan berpotensi
menimbulkan multitafsir. Mahasiswa tersebut bertanya apakah sastra memang
sengaja diciptakan agar menghasilkan banyak penafsiran.
Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber menjelaskan bahwa yang benar-benar mengetahui tingkat kesulitan sebuah karya sastra hanyalah penciptanya sendiri. Sementara itu, pembaca atau pendengar dapat memahami karya sastra dari berbagai sudut pandang sesuai dengan pemahaman masing-masing.Mahasiswa tersebut kemudian kembali bertanya mengenai bagaimana jika karya sastra digunakan sebagai media untuk menyampaikan maksud atau tujuan tertentu dari pencipta kepada pembaca atau pendengar, sedangkan karya sastra sendiri dapat menimbulkan multitafsir sehingga makna asli dari pencipta tidak sepenuhnya dipahami.
Narasumber
menjawab bahwa pada zaman dahulu, tafsir asli sebuah karya sastra dapat
langsung ditanyakan kepada penciptanya. Namun apabila pencipta karya tersebut
telah wafat, maka penafsiran dapat diperoleh melalui orang-orang yang dekat
dengan pencipta karya sastra tersebut.
Demikian berita acara ini dibuat sebagai dokumentasi pelaksanaan seminar “Bedah Karya Sastra: Rahasia Gaya Bahasa dalam Karya Sastra” yang diselenggarakan oleh HMP BSA UIN Sunan Ampel Surabaya.
Surabaya,
23 April 2026

Komentar
Posting Komentar